About

JEPRET STARTRAIL

memotret jejak bintang di malam hari

Bangun Dari Kematian Sejenak

Islam agama yang sangat indah dan harmonis

Mentari itu indah, saat kau tahu betapa Ia menyayangimu

sebuah kisah perjalanan para pejuang subuh sejati untuk meraih ridho ilahi

Poster Dakwah

karena Dakwah Tak Harus Ceramah

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2015

Bangun dari kematian sejenak


إستيقظ أخي.........إستيقظ
   Kata-kata yang sering kami dengar sebagai seorang santri dari pengurus ketika membangunkan pada waktu subuh dan juga ketika teman sekamar membangunkan teman yang lain. Tetapi apa sebenarnya makna dari kata tersebut. Dari segi bahasa Arab, kata (إستيقظ) bermakna meminta untuk dibangunkan dari tidur. Bahasa Arab sendiri adalah bahasa yang memiliki makna mendalam, sehingga tidak heran jika Al-Quran diturunkan Allah SWT di bumi para Anbiya' (Nabi-Nabi). 
    Jika ditelaah lebih mendalam, kata (إستيقظ) bermakna permohonan seoarang hamba kepada Allah SWT agar dibangunkan kembali dari tidur. Waktu tidur adalah waktu dimana seorang hamba yang lemah dimatikan sejenak oleh Allah SWT. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah kita sebagai hamba yang tidak memiliki daya dan upaya agar selalu berdo'a, mengingat akan kebesaran Allah SWT dan memohon agar dihidupkan kembali setelah kematian sejenak itu. Waktu kecil, sering kita diajarkan agar senantiasa berdoa ketika hendak tidur dengan membaca:

بِاسْمِكَ اللّهُمَّ أَحْيَاوَأَمُوتُ 
Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan mati

Dan ketika bangunpun kita berdo'a atas limpahan rahmat-Nya sebagai wujud rasa syukur dibangunkan kembali dari kematian sejenak dengan membaca

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit

Sungguh Islam agama yang sangat indah dan harmonis. Wallahu a'lam

PERSADA UAD, 20 Sya'ban 1436 H


Selasa, 24 Maret 2015

Cara Alam Menghibur Kita




Pernahkah kita mengalami ketika hujan deras mengguyur, kita 

lupa membawa payung. Lalu kita pun berbasah kuyup kedinginan. 
Namun, ketika kita siapkan jas hujan, justru panas dan terik 
datang membakar hari. Sebalkah anda?

Atau mungkin kita pernah terburu-buru mengejar waktu, tetapi 

perjalanan malah tersendat, seolah membiarkan kita terlambat. 
Namun, ketika kita ingin melaju dengan tenang, pengendara lain 
malah membunyikan klakson agar kita mempercepat langkah. 
Sebalkah anda? Mengapa keadaan seringkali tak bersahabat? 
Mereka seakan meledek, mengecoh, bahkan tertawa terbahak-bahak. 
Inikah yang disebut dengan "ketidakmujuran"?


Lebih baik anda tetap tersenyum, itu adalah cara alam menghibur kita. Itulah cara 

alam mengajak kita tersenyum, menertawakan diri sendiri, dan 
bergurau secara nyata. Kejengkelan itu muncul dari kerena kita 
tak mencoba bersahabat dengan keadaan. Kita hanya mementingkan 
diri sendiri. Kita lupa bahwa jikalau keinginan kita tidak 
tercapai, tak ada salahnya kita menyambutnya dengan senyum, 
meski serasa kecut, tak apalah.

ISRA’ MI’RAJ (Sebuah Ibrah ataukah Formalisme Ritualitas Keagamaan)


Barangkali, bagi komunitas muslim sejagad, khususnya muslim nusantara, suatu yang tidak terlewatkan dalam setiap bulan Rajab adalah peringatan momen Isra’ Mi’raj. Peristiwa besar yang direkam oleh kitab suci al- Qur’an itu seolah telah berakulturasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan ‘ritualitas’ keberagamaan muslim Indonesia.  Sehingga, riuh bulan Rajab selalu sejoli dengan momentum perayaan Isra’ Mi’raj yang diyakini terjadi pada tanggal 27 Rajab.
Walaupun, tidak semua pendapat menyatakan peristiwa Isra dan Mi’rajnya Rasulullah Muhammad saw itu jatuh pada waktu tersebut, karena Ibn Ishaq al-Harbiy berpendapat bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rabi al-Akhir, setahun sebelum Hijrahnya Rasulullah saw ke Madinah. Seremonialisasi berbagai peristiwa sejarah keagamaan, khusunya Isra’ Mi’raj, akhirnya hanya sebatas ritual budaya yang seolah terjebak oleh kungkungan cerita waktu dan tempat kejadian suatu peristiwa itu semata.
Akibatnya, penterjemahan peristiwa sejarah tersebut terjebak dalam rutinitas yang tidak jarang lari dari maksud dan tujuan sebenarnya mengapa peristiwa itu diciptakan dan dicatat oleh Allah di dalam kitab suci-Nya. Penterjemahan peristiwa Isra’ Mi’raj semacam itu, akhirya juga terperangkap dalam pola keberagamaan yang formalistik, yang cenderung abai terhadap substansi dan orientasi ajaran agama itu sendiri. Sehingga seolah-olah, bulan Rajab hanya sebatas ruang pengulangan cerita tentang apa yang dialami dan ditemukan oleh Rasulullah dalam perjalanan mu’jizat besarnya itu. Jeratan formalisme keberagamaan inilah yang kemudian menjadi anomalik dan bahkan simalakama, yang membuat kualitas beragama umat tidak pernah terukur dengan baik.
Bahkan, formalisme keberagamaan cenderung menjadi senjata yang memangsa umatnya sendiri. Dari statement ini, tentu menjadi sangatlah relevan, jika dipertanyakan, sejauh manakah kualitas keberagamaan umat dengan rutinnya perayaaan hari besar keagamaan itu? adakah peringatan dan perayaan hari besar tersebut memberi kontribusi terhadap pemahaman umat terhadap ajaran agamanya, sehingga mampu direalisasikan dalam semua lini kehidupan? Apakah juga perayaan yang dilakukan secara rutin setiap tahun itu sudah benar adanya, dan sudah sesuai adanya dengan ajaran Islam yang kita anut ini. Ataukah, adanya  perayaan Isra’ Mi’raj ini adalah bagian dari ritual taklid buta dan kapitalisme pragmatis.

Dari sini, muncul sebuah pertanyaan besar yang patut kita renungkan bersama, apa makna haqiqi dari Isra’ Mi’raj bagi umat Islam. Dan apakah penterjemahan peristiwa Isra’ Mi’raj ini hanya sebatas dengan perayaan besar-besaran yang belum jelas dalil dan tuntunan syar’inya. Kemudian sejauh manakah setiap individu muslim mampu mengartikulasikan ajaran yang terkandung dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut. Sudahkah para eksekutor negara, wakil rakyat, kaum intelektual, ekonom, tenaga pendidik maupun rakyat, menjadikan kandungan hikmah peristiwa Isra dan Mi’raj sebagai standar evaluasi keberagamaan, baik personal maupun secara kolektif. Segala pertanyaan tadi terasa sangat serius, mengingat, jebakan formalisme perayaan hari besar keagamaan Islam, khususnya Isra’ Mi’raj, tidak akan mengantarkan umat kepada izzahnya sesuai cita sejarah. Dengan demikian, semua peristiwa agung itu hanya sebatas cerita rutin yang miskin misi, menguras energi dan krisis orientasi. Jika itu yang terjadi, maka perayaan tahun berikutnya hanya pesta umat di atas nisan kuburan kemajuan peradaban mereka sendiri yang tiada manfaat dan sia-sia.{Sy}

PRIMITIF MODERN


       Perkembangan fashion dari tahun ke tahun semakin berkembang pesat, fenomena ini bisa kita lihat di tempat – tempat perbelanjaan, butik, dan masih banyak lagi. Berbagai desain busana dipajang di depan toko dengan gaya yang bermacam - macam agar para konsumen tertarik. Para perancang busana berlomba – lomba mengeluarkan ide mereka ke busana yang akan dibuat begitu juga dengan pabrik tekstil. Ini menunjukkan bahwa masyarakat sekarang sadar bahwa kebutuhan fashion bukan hanya sekedar berpakain, tapi merupakan sebuah gaya dan trendi sehingga fashion juga bisa disebut sebagai alat komunikasi atau sarana komunikasi di masyarakat.
       Ada sebuah cerita dari salah satu dosen sebuah universitas; “ketika saya berumur 15 tahun, saya diajak kakak sepupu untuk ikut mengajar di desa – desa terpencil di bawah lereng gunung. Saya pun menyetujuinya dan esoknya kami berangkat bersama. Ketika sampai di desa yang dituju, kami melihat masyarakat setempat masih sangat primitf mereka hanya berpakain seadanya ada yang memakai pakaian dalam bahkan ada yang masih menggunakan dedaunan tetapi inilah misi kami untuk mendidik mereka agar berkemajuan. Air di desa tersebut sangatlah sejuk dan jernih karena berasal dari gunung langsung.”
     Dari cerita di atas, ada sesuatu yang menggelitik yaitu pada perkembangan fashion zaman sekarang banyak yang di luar batas atau melanggar syari’ah. Kita tidak usah jauh – jauh untuk melihat orang – orang primitf cukup anda berjalan – jalan di pusat perbelanjaan anda akan melihat sekumpulan orang primitif sedang menikmati sajian khas zaman purbakala. Inilah yang disebut dengan primitf modern yang banyak melanggar aturan – aturan Allah SWT, padahal telah jelas disebutkan dalam Al – Qur’an: “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya; janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak padanya. Wajib atas mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. (QS. An-Nur [24]: 31). Maka dari itu wahai saudara seiman, marilah kita bersama – sama menjadi seorang hamba Allah yang selalu taat dengan segala perintah – Nya dan jika ingin mengikuti perkembangan fashion yang semakin pesat tidaklah mengapa tapi tetap dalam batas koridor keislaman yang syar’i. Wallahu A’lam (MA)